40
[Kritik] Xinjiang: Sebuah Pertanyaan

"Hiks hiks hiks".. alunan suara itu terus terdengar dari kejauhan di desa kecil dekat kota Karamay, Xinjiang. "Ibu, tolong aku, aku sangat menderita!!!" "Sabar nak, kita harus segera melanjutkan perjalanan kita ke Bangalore supaya kamu bisa dirawat. Ribuan kilometer masih harus kita lalui, sabarlah nak. Mungkin saja kita bisa mendapat perawatan gratis di Punjab, Pakistan nanti".... ibu dan anak itu lalu berpelukan erat dan mesra, diiringi dengan terbitnya matahari yang terikoi ditengah langit yang biruoi.
Suara langkah kaki terdengar dari jauh, drap, drap, drap.... "ibu, kita benar-benar harus berjalan kaki, melalui wilayah Aksai Chin yang dingin itu... melewati hutan-hutan tropis di India... kita bisa berhenti di Mumbai karena disana ada pelayanan rumah sakit gratis"... air mata, bagaikan kaldera yellowstone yang meledak, mengalir begitu deras dari mata sang ibu. "Apa yang sebenarnya terjadi sih papa?" Sang ayah termenung, dan lagu The Star Spangled Banner terdengar dari kejauhan.
Andai aku bisa
Mengubah semua
Kisah di dunia
Menjadi bahagia
Akan kujadikan
Tempat yang sempurna
Tak ada tangis yang sakiti jiwa
Sepenggal lagu Saykoji itu dinyanyikan oleh sang Ayah. "Sebenarnya beberapa hari lalu mah, aku menguping pengusaha yang mengomel karena tidak diberi kompensasi dari pemerintah, pemerintah benar-benar membuang kita mah, bagaikan habis manis sepah dibuang, dulu Uyghuristan kita adalah wilayah yang sangat dipentingkan sang Kekaisaran, tapi sekarang mereka membuang kita begitu saja, setelah kita diperah habis-habisan demi wilayah di utara kita."... Sang ibu menjawab, "jadi kita dibuang? Kenapa tidak naik angkutan pemerinta...", sang Ayah langsung memotong, "bantuan apanya! Pengusaha itu saja tidak diganti perusahaannya atau diberi lisensi, apalagi kita, rakyat kecil, informasi perang terkini saja tidak dikasih tahu, kita jadi tidak tahu apa yang harus dilakukan, tau-tau Uyghuristan kita sudah direbut. Shinjang Uyghur Aptonom Rayoni langsung direbut oleh para kulit putih!"
"Ibu, mereka mengusulkan ku agar lari ke utara yang lebih dekat, ke Novosibirsk di Siberia Barat.... tapi aku tidak mau, kita adalah bagian dari Kekaisaran Indonesia Raya, meskipun dulu mereka memperhatikan kita dan sekarang dibuang, kita akan tetap ke Bangalore!"
Ditengah ketekatan bulat itu, terbang tiga pamflet ke rumah mereka. Pamflet pertama berisi:
Say no to blackout of information
459 penduduk di Fujiang, Guangdong dan Xinjiang kini pun terpontang-panting
Inikah kerja sang menteri pertahanan nijikon? MINUS BESAR
Pamflet kedua yang terbang memasuki tempat mereka berisi gambar menteri TMOHS yang sedang melakukan pencitraan. Pamflet ketiga yang terbang berisi undangan untuk hadir pada rapat akbar penduduk Xinjiang bersama tentara Amerika dan RRT di Urumqi...
Tiga pamflet yang sangat kontras...

======================================== ====
Cerita pendek ini masih akan bersambung, dan pastinya didalamnya ada kritik untuk pemerintah kita, tergantung cara Anda menginterpretasikannya. Gov, peduli lah pada rakyatmu! Dari rakyat, oleh rakyat, tapi tidak ada untuknya, mau bagaimana?

Pertamax kah?
gak ada penjelasan soal xinjiang dari pemerintah!!!!
alurnya keren V
apa yang perlu di jelaskan?
sudah jelas USA serang xinjiang dengan aliansinya, menang kalah itu biasa. Yang peling penting itu tujuan akhirnya, apakah tujuan akhir Eden akan berhasil atau tujuan Phoenix yang berhasil.
Sejauh ini Eden sedang tampil sebagai negara agresor tetapi bertopengkan kebeneran dengan mencapai simpati dunia.
Keep smiling
Voted!
mantab!
voted
skali lg tulisan yg menarik dari Ibu hajah,eh salah, Haji (?) Irene Handoko..
Bintang Satu Org .... Setuju ...!
jiaaaagggghhhhh.....considered done